Senin, 23 September 2013

Apresiasi Seni





KLIPING
 


SENI BUDAYA



Disusun Oleh :
v Aliza Sulistiadjie      (03)
v Dianatun Mofidah   (09)
v Izmi Azizah              (15)
v Siti Robiyatul A       (31)




SMP NEGERI 1 AROSBAYA
TAHUN PELAJARAN 2013/2014

APRESIASI SENI
PENGERTIAN APRESIASI...
Secara leksikografis, kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris apreciation, yang berasal dari kata kerja to Apreciate, yang menurut kamus Oxford  berarti to judge value of; understand or enjoy fully in the right way; dan menurut kamus webstern adalah to estimate the  quality of to estimate rightly tobe sensitevely aware of. Jadi secara umum me-apresiasi adalah mengerti serta menyadari sepenuhnya, sehingga mampu menilai secara semestinya.
Dalam kaitannya dengan kesenian, apresiasi berarti kegiatan meng-artikan dan menyadari sepenuhnya seluk beluk karya seni serta menjadi sensitif terhadap gejala estetis dan artistik sehingga mampu menikmati dan menilai karya tersebut secara semestinya. Dalam apresiasi, seorang penghayat sebenarnya sedang mencari pengalaman estetis. Sehingga motivasi utama yang muncul dari diri penghayat seni adalah motivasi untuk mencari pengalaman estetis.
Pengalaman estetis menurut  Albert R. Candler adalah kepuasan kontemplatif atau kepuasan intuitif. Sedangkan Yakob Sumardjo menjelaskan  pengalaman seni adalah keterlibatan aktif dengan kesadaran yang melibatkan kecendekiaan, emosi, indera dan intuisi manusia dengan lingkungan (benda seni) (2000, 161). Dalam proses pengalaman estetis unsur perasaan dan intuisi lebih menonjol dibandingkan  nalar; itulah sebabnya maka dalam proses tersebut penghayat seni seolah kehilangan jati dirinya karena seluruh kehidupan perasaannya larut ke dalam obyek seni, dan inilah yang disebut dengan empati.. Proyeksi perasaan tersebut bersifat subyektif dan sekaligus obyektif. Artinya subyektif karena penghayat menemukan kepuasan atau kesenangan dari obyek seninya dan obyektif  karena proyeksi perasaan itu berdasarkan nilai-nilai yang melekat pada benda seni tersebut. Kualitas seni yang ada dalam karya tersebut mengalirkan pengalaman secara dinamis dan akhirnya mendatangkan kepuasan. Kualitas suatu karya biasanya muncul karena adanya pola yang jelas yang  terjalin pada unsur/elemen seni sehingga membentuk sebuah struktur. Dalam seni rupa struktur tersebut ada pada rasa unity, balance, harmony, rythm, proportion, point of interest, contrast dan discord.
Dalam kaitannya dengan apresiasi terhadap karya seni, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi apresiasi seseorang ,yaitu;
·        Kemauan dan minat,
·        Sikap terbuka,
·        Kebiasaan,
·        Peka atau sensitif
·        Kondisi mental.
Kemauan dan minat diperlukan untuk menikmati karya; sebab tanpa kemauan dan minat apresiasi tidak akan berhasil

DEFINISI APRESIASI...
Apresiasi bolehlah didefinisikan sebagai kajian mengenai pelukis-pelukis atau pandai
tukang mengenai hasil-hasil seni mereka, faktor yang mempengaruhi mereka, cara
mereka bekerja, bagaimana mereka memilih tema dan ‘subject matter’ serta gaya dan
stail mereka .Semua ini berkait rapat dengan aspek pemahaman mereka dari aspek-
aspek kognitif. Ianya juga sebagai satu penghargaan terhadap penilaian dan perasaan terhadap sesuatu hasil seni itu. Ia boleh dikatakan sebagai pembentukan sikap, minat dan
kebolehan membuat pilihan dan ini berkait rapat dengan aspek-aspek afektif.

Menurut Smith (1966), apresiasi seni ini memerlukan
“logical operation such as defining, valuing and explaining”

Pendidikan seni harus dilihat dalam skop yang lebih luas. Umumya, para pendidik seni
beranggapan Pendidikan Seni di sekolah bukan sekadar meningkatkan kemahiran dan
teknik menghasilkan karya seni sahaja.

OBJEKTIF APRESIASI
a) Memahami dan bertindak terhadap aspek seni
b) Mengetahui pentingnya nilai seni dalam kehidupan
c) Menghasilkan karya (produk seni)
d) Memahami seni dan hubungannya
e) Membuat dan menggunakan pertimbangan estetik dan kualiti karya seni


TUJUAN APRESIASI DAN KRITIKAN SENI
Apresiasi seni membolehkan pelajar memahami aspek-aspek nilai estetika, pengertian
unsur-unsur seni dan nilai-nilai sosio budaya yang terkandung dalam hasil seni dan
kraf. Ianya juga dapat menghubungkaitkan diri dan hasil sendiri dengan hasil-hasil lain berdasarkan persepsi visual.Begitu juga dengan aktiviti apresiasi seni, kita dapat melihat perhubungan antara kerja
sendiri dengan kerja-kerja orang lain di mana kita dapat membentuk keyakinan dan
kefahaman penghargaan terhadap bidang seni

KAEDAH MELIHAT SENI
Kaedah-kaedah melihat seni terdiri daripada kaedah:

a) Hedonistic
b) Kontekstualistik
c) Organistik
d) Normistik
e) Elektik

a. KAEDAH HEDONISTIC
Kaedah ini hanya satu luahann perasaan secara spontan seperti kesukaan, pernyataan
perasaan, gemar, menarik dan benci.
Penilaian dibuat secara serta merta iaitu:

• Suka/tidak
• Tertarik/tidak
• Pernyataan spontan

Kaedah ini tidak sealiran dengan isme pengkritik dan ahli psikologi menyatakan kaedah
ini tidak diterjemahkan oleh otak (pemikiran) Cuma berdasarkan maklumat kendiri.
Ianya tidak dapat di ukur bilangan sebenar dan terdapat pelgabai citarasa.


b. KAEDAH KONTEKSTUALISTIK
Kaedah ini lebih praktikat di mana pemerhatian dibuat secara lebih ilmiah, sistematik
dan kefahaman serta kejelasan. Ianya berkait dengan pengetahuan sejarah, falsafah
dan prinsip rekaan.Lebih rujuk kepada perincian/spesifikasi dari aspek persoalan fahaman, rentak pengkaryaan, interaksi pemerhati, konsepsi, hujah dan penilai karya.
Ianya akan menyediakan pengetahuan mantap dalam pengamata karya, kefahaman
konsep, kepelbagaian bandingan dan seni akan menjadi suatu pendekatan yang
menarik oleh pemerhati.

c. KAEDAH ORGANISTIK

Kaedah ini menjurus kepada aturan yang mempunyai satu sistem yang teratur dan
terancang. Penilaian dibuat serata melihat konteks seni secara harmoni, menentuh
intuisi dan menyenangkan. Penekanan kriteria kapada aspek tata letak, tata atur, ruang
dan penataan cahaya.
Ini akan dapat membentuk kesatuan cara melihat sesuatu karya dari segi warna,
jalinan, unsur-unsur seni , imbangan, perulangan, kesinambungan serta kepelbagaian.
d. KAEDAH NORMISTIK

Kaedah ini merujuk kepada kriteria dan norma sesuatu karya dari aspek nilai
masyarakat, agama dan budaya. Ia seakan-akan ada kaitan dengan pendekatan diri
kepada Allah, rasa takwa, tidak ada unsure sensasi. Cntohnya lukisan agama Kristian
yang berkaitan unsur ikonografi, naratif dan nilai-nilai akhlak.
Kaedah ini menolak peradaban moden di mana pelukis telah melampaui batas yang
dibenar dalam budaya dan agama.

e. KAEDAH ELEKTIK

Kaedah ini lebih berbentuk cara bersepadu dan holistic, ianya aalah gabungan persepsi
penilai seni tentang tanggapan positif dan negatif. kriteria penilai menekankan unsur
asas prinsip, struktur organisasi dan alat dan bahan.
Kaedah ini untuk pemerhatian secara rawak, tidak menjurus kepada aspek
kronologinya. Wajaran hanya secara baik, sederhana dan kurang baik.

PROSES APRESIASI SENI
Terdapat berbagai cadangan oleh beberapa pakar pendidikan seni mengenai proses
apresiasi. Feldman (1967) dan smith (1967) mencadangkan aktiviti-aktiviti apresiasi seni berasaskan kepada proses persepsi dan intelektual melalui empat tahap:

a) Menggambarkan
b) Menganalisa
c) Tafsiran
d) Penilaian

A. MENGGAMBARKAN
Mengamati hasil seni dan menggambarkab sifat-sifat tampak seperti warna, garisan,
bentuk, rupa, jalinan dan elemen-elemen gubahan iaitu prinsip dan struktur

B. MENGANALISA

i. Menganalisa perhubungan sifat-sifat tampak seperti unsure-unsur seni, prinsip
dan stuktur
ii. Menganalisa kualiti ekspresif seperti mood dan suasana
iii. Menghauraikan stail sesuatu karya


C. TAFSIRAN

i. Mencari makna-makna yang tedapat pada sifat-sifat tampak seperti subjek,
symbol, unsure-unsur seni, prinsip, strktur, corak dan bahan
ii. Mencari metafora-metafora (ibarat/kiasan) an analogi-analogi (persamaan) untuk
menjelaskan makna tersebut.

D. PENILAIAN

i. Membuat penilaian berdasarkan kepada criteria yang bersesuaian seperti
keaslian, gubahan, teknik dan fungsi
ii. Menilai hasil seni berdasarkan kepada pengertiannya dari segi individu, social,
keaagamaan dan kepercayaan, sejarah serta keseniaannya.


Batik bali dan penjelasannya

batik bali Batik bali dan penjelasannya
Batik Bali – Memang masih relatif baru, namun perkambangan industri batik di Pulau Bali begitu pesat. Barangkali karena Bali menyimpan banyak potensi motif dan desain lokal. Puluhan desain batik khas Bali telah lahir. Dari yang berharga murah hingga yang selangit. Sejauh ini, harga pasaran rata-rata batik tulis yang beredar di Bali Bali yang berkualitas bagus berkisar antara Rp 350 ribu hingga Rp 2 juta. Tingginya harga tersebut karena batik-batik tersebut dibuat dari kain bermutu dan digambar langsung dengan tangan serta menggunakan bahan pewarna alami seperti yang dibuat oleh Ida Ayu Pidada (dengan merek “Batik Wong Bali”) atau oleh A.A. Inten Trisna Manuambari (dengan merek “Diamanta”).
Batik sendiri merupakan hasil kerajinan yang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak berabad-abad lalu, khususnya di Jawa. Istilah batik konon berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “nitik”yang berarti membuat titik. Secara bebas, kata batik merujuk pada teknik pembuatan corak dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna berupa malam (wax), yang diaplikasikan di atas kain. Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah wax-resist dyeing. Teknik ini hanya bisa diterapkan di atas bahan yang terbuat dari serat alami seperti katun, sutra, dan wol. Jika ada kain batik yang pembuatan corak dan pewarnaannya tidak menggunakan teknik di atas kain tersebut dinamakan kain bercorak batik, bukan kain batik. Kain macam itu biasanya dibuat dalam skala industri dengan teknik cetak. (batik bali dan keterangannya)
Di Bali, industri kerajinan batik bali dimulai sekitar dekade 1970-an. Industri tersebut dipelopori antara lain oleh Pande Ketut Krisna dari Banjar Tegeha, Desa Batubulan, Sukawati Gianyar, dengan teknik tenun-cap menggunakan alat tenun manual yang dikenal dengan sebutan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Kerapnya orang Bali mengenakan batik untuk berupacara –sebagai bahan kain maupun udeng (ikat kepala), mendorong industri batik di pulau ini terus berkembang dang maju. Kini di Bali telah tumbuh puluhan industri Batik yang menampilkan corak-corak khas Bali, juga corak-corak perpaduan Bali dengan luar Bali seperti Bali-Papua, Bali-Pekalongan, dan lain-lain.
Motif Batik Bali
Bali menyimpan potensi motif dan desain lokal. Puluhan desain batik khas Bali telah lahir yang biasanya dikawinkan dengan motif batik yang ada dari berbagai wilayah di Tanah Air dan pengaruh motif China.
Tingginya harga tersebut karena batik-batik tersebut dibuat dari kain bermutu dan digambar langsung dengan tangan serta menggunakan bahan pewarna alami, seperti yang dibuat oleh Anak Agung Inten Trisna Manuambari dengan merek “Diamanta” atau Ida Ayu Pidada dengan label “Batik Wong Bali”.
AA Inten Trisna M, pengrajin batik Bali mengatakan, guna mempertahankan kualitas produknya itu, dirinya terus berupaya melakukan terobosan dengan membuat motif baru yang diperkirakan dapat diterima konsumen di pasaran.
“Biasanya untuk motif baru itu, saya menggabungkan atau mengawinkan motif khas Bali dengan yang berasal dari daerah lainnya di Indonesia, bahkan sampai luar negeri, seperti China,” kata wanita yang akrab disapa Gung Inten itu, di Denpasar,
Dia menjelaskan, perpaduan motif yang biasa dilakukannya adalah mengambil ornamen khas Pulau Dewata, seperti naga, rusa, burung bangau, dan kura-kura. Kemudian memadukan dengan motif dari daerah luar Bali yang biasanya berbentuk flora.
 “Saat ini selain motif, saya juga bermain pada warna yang lebih menonjolkan corak alam. Warna alam itu dipilih karena terkesan lebih halus, dan hasilnya pun banyak penggemarnya sehingga sekarang menjadi tren batik tulis khas Bali.

batik bali 1 300x225 Batik bali dan penjelasannya
batik
Nilai artistik dari kain Batik Bali
Desain dari batik Bali ini terinspirasi dari cerita religius para dewa dan kisah sehari-hari masyarakat Bali, yang digambarkan dalam berbagai pola yang rumit. Desain dari batik Bali ini juga memiliki prestise tersendiri yang menunjukkan perbedaan kelas dala masyarakat di Bali. Batik yang berkualitas tinggi biasanya menunjukkan status sosial seseorang di masyarakat, mirip dengan pemakaian label atau merek desainar terkenal pada masyarakat barat yang manunjukkan kekayaan seseorang di dunia barat. Pola pada batik Bali ini digambar dengan teknik pengambaran pola dari lilin pada kapas tenunan halus yang telah dipraktekkan sebagai bentuk dari meditasi di Bali dan Jawa Tengah selama berabad-abad. Dimana, pada awalnya teknik mediasi ini hanya dilakukan oleh abdi dalem wanita kerajaan. Oleh karena itulah sampai saat ini batik tulis tradisional hanya dibuat oleh perempuan.
Desain indah dari batik Bali memberikan kesempatan bagi masyarakat Bali untuk menunjukkan keunggulan artistik dan kerajinan mereka kepada seluruh dunia. Motif yang terdapat pada batik bali pada awalnya didominasi oleh karakter-karakter mitologi Bali yang diturunkan dari generasi ke generasi. Tetapi, pada masa sekarang motif batik Bali lebih diarahkan pada seni kontemporer agar bisa menyesuaikan dengan batik modern pada umumnya. Motif yang kini banyak terdapat pada batik modern adalah ekspresi dari benda-benda alam seperti, pohon, bunga, kupu-kupu, burung atau ikan untuk kegiatan sehari-hari tanpa mengurangi pengaruh batik itu sendiri dalam prosesi festival atau upacara keagamaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar